Kawasan Museum Alat Musik Nusantara

Just another WordPress.com weblog

GONDANG YANG BAKAL HILANG May 1, 2009

Filed under: Terancam menjadi Artefak — felixsusanto @ 2:52 pm

Ditulis pada Nopember 21, 2008 oleh tanobatak (http://tanobatak.wordpress.com)

Monang Naipospos

Program Revitalisasi Gondang Batak sudah berakhir. 12 orang murid sudah siap menambang pengalaman margonsi bersama para gurunya di lapangan. Mereka sudah mengenal beberapa gondang dan memainkannya dengan baik. Tentu saja selama pembelajaran dua tahun ini mereka dicecoki teknik permainan dan beberapa materi gondang saja sebagai bahan praktek pembelajaran.

Guru senior mereka sudah mulai dimakan usia. Diantara mereka hanya tiga orang yang menguasai sekitar ratusan gondang dan memainkannya dengan baik. Tangan mereka sudah mulai gemetar, kaki mereka sudah sering kesemutan. Bila kelak banyak orang batak lihai memainkan alat musik batak ini, lalu materi gondang apa yang bakal dimainkan?

Sekitar ratusan gondang tadi sudah jarang dimainkan karena masyarakat selama sewindu terakhir ini sudah lebih sering mendengar musik pop. Jaman dulu, menjadi pargonsi harus hati-hati, harus menguasai banyak materi gondang. Panguasaan lain adalah harus mampu menyesuaikan gondang yang dimainkan dengan paparan peminta gondang. Kadang peminta gondang menyebut nama gondang itu sendiri. Ini tidak ditemukan lagi saat ini. Yang menjengkelkan bagi para pargonsi tradisi, bila ada panortor minta gondang dengan menyebut lagu pop seperti biring-biring, pocco-pocco, terakhir ini masuk anak medan. Ini melecehkan pengetahuan mereka, tradisi yang dianut dari gurunya. Mereka tidak lagi melatih diri dan mengingat gondang batak original itu. Disisi lain, masyarakat tidak pernah lagi mendengar ragam irama gondang itu.

Di tengah perjalanan kesenian bermunculan pargonsi hanya dengan menguasai 10 gondang saja dan dibekali kemampuan membawakan lagu pop, mereka jadi eksis. Generasi muda hingga yang berusia 40 tahun saat ini akan kaget bila mengetahui dan mendengar ratusan repertoar gondang batak original itu. Ancaman yang mungkin akan terjadi, saat kita lelah dengan segala sesuatu pencapaian kita selama ini dan saatnya kembali ke basis kebudayaan, kita sudah kehilangan. Usia tua para pargonsi senior tidak mungkin di hempang untuk tetap ada diantara kita saat kita sudah butuh. Ilmu mereka akan dibawa mati karena tidak ada pargonsi muda yang terlalu berkepentingan mengetahui banyak materi gondang. Tidak ada masyarakat saat ini yang membutuhkannya. Pustaka hidup itu kelak akan hilang yang tidak mungkin dapat digali melalaui menggali kuburnya.

Antisipasi keadaan ini perlu langkah. Saya pernah mencoba mewacanakan itu kepada beberapa orang batak culture dan mendapat respon. Saya mencoba membuat sebuah program “dokumentasi” untuk gondang batak ini. Bapak Pertus Sitohang, Sahat M. Nainggolan dan ito kita Rianthy Sianturi dkk mendukung secara moral dan material. Saya baru mampu merekam 18 gondang yang jarang diperdengarkan. Hanya kami berampat terasa puas dengan apa yang kami lakukan. Kalau pun ini tidak dapat kami lanjutkan terus, setidaknya sudah pernah memikirkannya, melakukannya dan menghimbau semua orang untuk mendukung. Sebenarnya ini tanggungjawab siapa?

Rianthy Sianturi dkk melakukan pendekatan ke almamaternya di Politeknik Informatika DEL Sitoluama Laguboti. Sang Direktris menyambutnya, keputusan untuk peran yang lebih besar ada pada pengelola Yayasan. Pameran dilakukan dihadapan para petinggi yang hadir di Institusi itu saat pengukuhan mahasiswa baru 2008. Tidak pernah lagi saya dengar gaungnya.

Saya menghentikan sementara program ini karena beberapa hal. Bila harus mengandalkan ketiga sahabatku ini, beban yang akan dipikulnya akan besar. Bila dilakukan hanya sekedar, saya kasihan kepada para pargonsi tua itu bila harus menanggung sendiri transportnya, meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mendokumentasikan kelebihan yang ada pada diri mereka. Mereka adalah ekspert dari komunitas tradisional kepada orang batak dan dunia saat ini yang sudah tercabut dari kebudayaan batak. Mengapa tidak kuhargai dengan layak?

Jaihut Sihotang pargonsi dari Ronggurnihuta Samosir menelepon saya setelah sms yang kukirim tentang pagelaran sekolah gondang di Tobasa akan dilakukan. Saya berada di Lampung, katanya. Dari suaranya kuduga dia sangat terharu bahwa keseniannya itu mulai diangkat di negeri sendiri. Kudengar suaranya terbata. Selama ini dianggapnya komunitas seniman batak sudah terabaikan. Kepuasan bagi seniman ini pernah dikatakannya bukan karena materi yang diterima, tapi bila peminta gondang merasa puas dengan permainan mereka. Dia mengutarakan kesedihannya bila peminta gondang menyebut nama lagu pop untuk dimainkan. Beliau penuh pengharapan kepada saya, entah kenapa. Padahal ini baru geliat. Saya tidak berani mengatakan kepadanya bahwa ini mungkin akan tertidur kembali

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s