Kawasan Museum Alat Musik Nusantara

Just another WordPress.com weblog

Tak Ada Kata Mati untuk Musik Tradisional May 4, 2009

Filed under: Kabar Sukacita — felixsusanto @ 10:13 am

Kompas; Senin, 4 Mei 2009




Sebanyak 60 pemusik dari berbagai negara bersepakat: musik dunia mulai kehabisan inspirasi. Sementara musik tradisional justru menjadi musik abadi yang diakui mampu menggugah inspirasi baru khususnya para pemusik asal barat.

Karena itu, ini dinilai menjadi momentum penting bagi pemusik lokal untuk lebih memperkuat karakter dengan musik tradisional. Hal ini menjadi kesimpulan para pemusik tersebut pada lokakarya ”Gaung, 21st Century Global Musik Education”, di Bali, 23 April-2 Mei.

Franki Raden, komposer yang juga program desainer dan Direktur Gaung, mengatakan, musik aliran barat tengah mencari inspirasi baru. ”Kami berkumpul dan mendapatkan inspirasi baru bahwa musik tradisional memang tidak mengenal kata mati. Kami pun bersepakat perlu terobosan bagaimana menggabungkan yang tradisi dan modern menjadi sajian yang menarik bagi pendengar maupun antarpemusik itu sendiri,” kata Franki, di sela-sela penutupan lokakarya Gaung, Minggu (3/5) malam di Klapa Pecatu Cafe.

Para pemusik tersebut berasal dari beberapa negara, antara lain Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Jepang, Perancis, Amerika Serikat. Musisi kelas dunia yang berkumpul, antara lain, Franki Raden, Stomu Yamash’ta, Jean Claude Eloy, Christy Smith, Greg Schimer, Marzuki Hasan, Irwansyah Harahap, dan Serrano Sianturi.

Lokakarya digelar selama 10 hari di lingkungan LIPI Kebun Raya Bedugul, Kabupaten Tabanan. Mereka juga menggelar pertunjukan musik di lingkungan Pura Batu Karu, Tabanan dan Ungasan, Badung, hasil dari bertemunya ide-ide di Bedugul.

Franki menambahkan, selain bertemu untuk berdiskusi dan bertukar ide serta pemikiran, mereka berkolaborasi menghasilkan musik. ”Kami juga melakukan riset ke berbagai lingkungan tradisi Bali serta musik kecak,” ujarnya.

Pada riset tersebut, lanjut Franki, kehidupan tradisional Bali melekat dengan musik yang bisa menyatu dengan kehidupan sosial sehari-hari. Sementara kehidupan yang harmoni antara sosial spiritual dan musik langka ditemukan di belahan dunia lain khususnya barat.

Permainan musik yang dibawakan pada pertunjukan di Ungasan kemarin menampilkan kolaborasi nada gamelan yang telah dimasukkan dalam telepon genggam menggunakan program khusus oleh Greg Schimer dari Australia.

Telepon genggam yang telah dibunyikan dimasukkan dalam saku kemudian dilemparkan berputar-putar untuk menghasilkan nada gamelan yang seperti aslinya. (AYS)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s