Kawasan Museum Alat Musik Nusantara

Just another WordPress.com weblog

Angklung Alat Musik Tradisional Sunda March 29, 2010

Filed under: alat alat musik,alat alat musik daerah,alat alat musik tradisional,alat alat musik tradisional indonesia,alat kesenian,alat musik,Alat Musik / Etnomusikologi,alat musik angklung,alat musik daerah,alat musik indonesia,alat musik mancanegara,alat musik melodis,alat musik nusantara,alat musik sunda,alat musik tradisional,alat musik tradisional angklung,alat musik tradisional daerah,alat musik tradisional nusantara,alat tradisional,alat untuk,Angklung,angklung adalah,angklung bali mp3,angklung indonesia,angklung instrument,angklung mang udjo,angklung mang ujo,angklung mp3,angklung music,angklung sunda,angklung udjo,angklung ujo,art museum,art musik,artikel alat musik,artikel angklung,artikel kebudayaan,asal angklung,Budaya,budaya indonesia,budaya musik,charts musik,contemporary art museum,contoh alat musik,daerah,daerah indonesia,freeware musik,fungsi angklung,gallery musik,gambar alat musik,gambar alat musik angklung,gambar alat musik tradisional,gambar angklung,gambar musik,historical museum,history museum,Idiophone,indonesia,indonesia musik,Jawa Barat,jenis alat musik,jenis angklung,jenis jenis musik,kebudayaan,kesenian,kesenian angklung,kesenian daerah,kesenian tradisional,lagu angklung,lagu indonesia,macam alat musik,macam macam alat musik,museum,museum art,museum gallery,museum musik,museum national,museum smithsonian,music museum,musik adalah,musik angklung,musik daerah,musik download,musik downloads,musik gratis,musik mp3,musik nusantara,musik tradisional,musik tradisional nusantara,musik tradisional sunda,nama alat musik,nama alat musik tradisional,nama nama alat musik,natural history museum,nederland museum,pengertian angklung,perkembangan musik,ragam budaya,saung angklung,saung angklung mang udjo,saung angklung ujo,Sejarah,sejarah alat musik,sejarah angklung,sejarah musik,sejarah musik tradisional,seni musik,smithsonian museum,Suara,Suku,sunda,technology museum,tentang angklung,toko alat musik,tradisional indonesia,tradisional musik,Uncategorized,youtube angklung — felixsusanto @ 10:05 pm

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang akan berbunyi jika benturan badan pipa bambu sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, dan 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisional Sunda ini kebanyakan salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat-alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Jenis bambu yang digunakan sebagai alat adalah awi wulung (bambu hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Cara Purwa instrumen angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambu berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung adalah alat musik dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun yang lalu. Kebiasaan ini dimulai bersamaan dengan munculnya beras. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi orang-orang bahwa tanaman padi tumbuh subur.

Masyarakat Sunda dikenal sejak zaman kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Angklung berfungsi sebagai pemompa semangat masyarakat masih terasa hingga masa penjajahan, itu sebabnya Pemerintah Belanda sudah melarang penggunaan angklung, larangan ini bisa membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak-anak pada waktu itu.

Asal mula penciptaan musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan orang-orang Sunda yang hidup dengan sumber kehidupan agraria padi sebagai makanan. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi memberi kesuburan Beras (kehidupan).

Refleksi orang-orang Sunda yang digunakan dalam pengolahan pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (mulai bala bantuan) untuk menyesuaikan hasil panen mereka tidak mengundang bencana, baik hama dan bencana alam lainnya. Buhun lagu untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Menawarkan lagu-lagu berikutnya dari Dewi Sri adalah disertai oleh suara iringan perkusi yang terbuat dari batang bambu yang dikemas sederhana struktur yang kemudian muncul alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Pengembangan lebih lanjut dalam tradisi permainan Angklung disertai dengan unsur-unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (untuk wirahma) dengan pola dan aturan = aturan sesuai dengan kebutuhan upacara pada saat padi diarak ke gudang ( ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mulai menanam padi di beberapa tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula, ketika pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama dalam presentasi terkait beras Angklung upacara, seni ini menjadi sifat arak-arakan menampilkan atau helaran, bahkan di beberapa tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang dan Jampana (usung pangan) dan sebagainya.

Dalam prosesnya, Angklung untuk mengembangkan dan menyebar di seluruh Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Tahun 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain, ditandai penyerahan angklung, dan musik bambu permainan ini juga dapat menyebar di sana.

Bahkan, sejak tahun 1966, Udjo Ngalagena tokoh angklung yang mengembangkan teknik didasarkan pada permainan laras-pelog, salendro, dan madenda-mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Angklung Baduy
Angklung daerah Badui (kita sering menyebut mereka Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Mengalahkan angklung ketika menanam padi daripada hanya bertiup gratis (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada irama tertentu, yang di Kaluaran (Baduy Luar). Namun, masih dapat ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya, mungkin hanya dipukul ke ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari masa tanam padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan dapat dimainkan lagi pada musim tanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (kiri, menyimpan) angklung setelah digunakan.

Dalam melayani hiburan, Angklung biasanya diadakan saat bulan purnama dan tidak ada hujan. Mereka bermain dalam permainan angklung (halaman di daerah pedesaan) sambil menyanyikan berbagai lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-Oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran , Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, mulung MUNCANG, giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Pemain angklung delapan orang dan tiga penabuh drum ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu, yang lain ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dari masyarakat Daduy dalam, mereka dibatasi oleh aturan adat pamali (pantangan; tabu), tidak boleh terlalu banyak melakukan hal-hal kesenangan duniawi. Seni yang dibuat semata-mata untuk tujuan ritual.

Nama-nama angklung di Baduy yang terbesar adalah: indung telur, ringkung, Dongdong, gosip, engklok, ovarium leutik, torolok, dan Roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama drum terpanjang adalah: drum, talingtit, dan tekan. Penggunaan instrumen drum ada perbedaan, yaitu di desa-desa yang mereka gunakan drum Kaluaran dari 3 lembar. Dalam Kajeroan; Cikeusik desa, hanya menggunakan drum dan talingtit, tanpa mengetuk. Dalam Kajeroan, desa Cibeo, hanya menggunakan drum, tanpa talingtit dan ketukan.

Dalam Baduy hak untuk membuat angklung adalah Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 desa, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga desa ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya untuk memiliki keturunan dan hak untuk melakukan hal itu selain persyaratan ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal Bapa Amir (59), dan di Cikartawana Bapa Tarnah. Kaluaran Orang membeli dari orang-orang di tiga desa Kajeroan itu.

Angklung Dogdog Lojor

Dogdog seni lojor publik Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Jakarta, Bogor dan Lebak). Meskipun seni ini disebut dogdog lojor, nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi ada juga digunakan angklung untuk ritual yang berkaitan dengan beras. Sekali setahun, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan upacara atau Seren Tahun Tahun di pusat desa tradisional. Pusat desa tradisional sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) di mana selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Menghormati tradisi beras dalam komunitas ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk orang-orang yang masih memegang teguh adat lama. Tradisi mereka mengklaim sebagai keturunan dari para perwira dan prajurit di istana baresan Pajajaran Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah memeluk agama Islam dan agak terbuka terhadap pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan untuk menikmati kesenangan duniawi. Sikap ini juga mempengaruhi fungsi seni dalam istilah yang sejak sekitar tahun 1970, dogdog lojor telah mengalami pertumbuhan, yang digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara meriah lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dan 4 angklung dogdog lojor potongan besar. Keempat buah angklung punya nama, yang terbesar dinamakan kulit, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Setiap instrumen dimainkan oleh satu, sehingga total enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor Bale Agung, Samping Hideung, gemetar-gemetar Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-keluhan. Membentuk lagu ini berirama vokal dogdog dan angklung cenderung tetap.

Angklung Gubrag
Gubrag Angklung Cipining ada di desa, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung telah lama digunakan untuk menghormati dewi padi dalam melakukan kegiatan pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada saat ketika desa Cipining mengalami musim paceklik.

Angklung Badeng
Badeng adalah suatu jenis seni yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai instrumen utama. Terdapat di Badeng desa, kecamatan Malangbong, Garut. Digunakan untuk melayani sebagai hiburan untuk kepentingan agama Islam. Tapi Badeng diduga telah dipakai sejak zaman periode sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk berkhotbah Badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah sekitar abad ke-16 atau 17. Pada waktu itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, mempelajari agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah kembali dari Demak mereka mengabarkan agama Islam menyebar. Salah satu cara menggunakan penyebaran Islam adalah seni Badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yang angklung Roel 2, 1 angklung intelijen, GTA 4 dan Angklung Angklung ayah, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, dan 1 kecrek. Teks bahasa Sunda dicampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang juga digunakan Bahasa Indonesia. Isi teks berisi nilai-nilai Islam dan nasihat yang baik, dan sesuai dengan tujuan acara. Selain menyajikan pertunjukan lagu, kesaksian juga disajikan atraksi, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam. Badeng Songs: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.

Buncis
Buncis adalah seni pertunjukan yang hiburan, yang terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan dalam kegiatan pertanian yang terkait dengan beras. Tetapi pada saat ini biji digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini terkait dengan perubahan pandangan masyarakat yang mulai kurang memperhatikan hal-hal yang berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual sehubungan beras kacang hijau, kacang hijau karena itu berubah menjadi hiburan. Sejalan dengan itu tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah orang, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Beras sekarang banyak penjualan langsung, tidak disimpan dalam gudang. Dengan demikian, seni yang telah digunakan untuk acara kacang ngunjal (dengan padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis nyengcle, kacang-kacangan, dan sebagainya. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini disebut buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. 3 buah dogdog, yang terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya, ditambah dengan tarompet, kecrek, dan gong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau gamelan. Lagu-lagu buncis meliputi: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu telah menggunakan biji yang sama lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang adalah seorang laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik angklung di Jawa Barat (Angklung) di atas, hanya beberapa contoh seni pertunjukan angklung, yang terdiri dari: Angklung buncis (Priangan / Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur / Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog Dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng identik dengan Angklung Nasional dengan skala diatonic, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung Indonesia biasanya berasal dari pengembangan angklung Sunda. Sunda angklung bernada lima (salendro atau pelog) oleh Guest Sutigna alias The Etjle (1908-1984) diubah nadanya menjadi skala Barat (solmisasi) yang dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil-hasil pembangunan dan kemudian diajarkan kepada siswa sekolah dan bermain orkestra besar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s